Senin, 01 Desember 2014

“TOTAL QUALITY MANAGEMENT”

“MAKALAH TOTAL QUALITY MANAGEMENT”

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  LATAR BELAKANG
Dewasa ini kita hidup dalam suatu zaman yang mempunyai berbagai ciri yang disebut sebagai era industri, era teknologi, era informasi atau era globalisasi. Zaman tersebut mengandung dimensi perubahan, berdasarkan keadaan tersebut yang menjadi tantangan dewasa ini bukanlah berbicara mengenai adanya perubahan, tetapi bagaimana membawa perubahan secara baik. Dengan demikian pemimpin dan manajer organisasi dewasa ini mau atau tidak mau harus menghadapi “Corporate olympics” yang semakin kompleks. Hal ini disebabkan karena untuk kelangsungan hidup dan perkembangan kehidupannya, organisasi harus memiliki daya saing yang harus dicapai melalui peningkatan kualitas dan produktivitasnya.
Pada mulanya, para industrialis  di Amerika Serikat kembali mempelajari apa yang sudah dipelajari mitra tandingannya di Jepang, Jerman, dan Negara-negara pemimpin lainnya. Pelajaran itu adalah bahwa yang merupakan kunci untuk bersaing di pasar internasional adalah perbaikan mutu dan produktivitas secara serempak dan berkesinambungan. Akan tetapi, semakin pangsa pasar menghilang, pesan tersebut mulai tenggelam di Amerika Serikat. Kesadaran yang terlambat membangkitkan gerakan mutu yang mulai diyakini. Kemajuannya berjalan perlahan tetapi masih terus berjalan. Selalu ada dan masih saja ada banyak pengecam, akan tetapi, suatu pendekatan untuk melakukan bisnis yang dikenal sebagai pendekatan mutu total telah merebut dan mendapatkan penerimaan berskala luas.
Pendekatan ini berlangsung dengan menggunakan banyak nama antara lain: Manajemen Mutu Total, Kepemimpinan Mutu Total, Mutu Perusahaan Total. Terlepas dari nama yang digunakan ini, hal ini merupakan pendekatan untuk melakukan bisnis yang memfokuskan semua sumber daya sebuah organisasi pada perbaikan serempak dan terus menerus atas mutu dan produktivitas. Tujuan dari pendekatan mutu total adalah untuk terus menerus memperbaiki kemampuan bersaing organisasi secara terus menerus.
Dengan demikian, Total Quality Management (TQM) adalah suatu pendekatan yang harusnya dilaksanakan oleh organisasi masa kini untuk memperbaiki kualitas output-nya, menekan biaya produksi dan meningkatkan produktivitasnya.
1.2  LANDASAN TEORI
Landasan Total Quality Management (TQM) adalah statiscal process control (SPC) yang merupakan model manajemen manufaktur yang pertama-tama diperkenalkan oleh Edwards Deming dan Joseph Juran sesudah Perang Dunia II guna untuk membantu bangsa jepang membangun kembali infrastruktur negaranya.  Model yang dikembangkan pertama kali adalah manajemen manufaktur, yang kemudian mengalami evolusi dan mengalami diversifikasi untuk aplikasi di bidang manufaktur, industri jasa, kesehatan, dan juga bidang pendidikan. Perkembangan TQM juga tidak terlepas dari kontribusi bidang manajemen dan efektivitas organisasi dalam membangun TQM. Kontribusi bidang tersebut merupakan satu dimensi tersendiri yang dapat disebut akar TQM. Akar TQM itu banyak berasal dari pengkajian dan praktek manajemen dimana yang signifikan adalah 10 bidang, yaitu:
1.      Scientific Management. Digunakan untuk mencari cara terbaik untuk melakukan pekerjaan melalui time and motion study dan proses produksi secara ban berjalan. TQM memperluas konsep ke dalam lingkup seluruh sistem.
2.      Group Dynamics. Kelompok-kelompok kerja dimaksudkan untuk mengembangkan teknik pemecahan persoalan.
3.      Pelatihan. TQM menempatkan program pelatihan pada prioritas utama di tiap tingkat organisasi. Pimpinan puncak belajar merumuskan visi, mendelegasikan wewenang, dan melatih bawahan. Bawahan harus belajar memecahkan persoalan yang timbul dalam pekerjaannya.
4.      Achievement Motivation (Motivasi Berprestasi). Karakteristik manusia adalah selalu mempunyai motivasi, potensi, dan ka-pasitas untuk bertanggung jawab terhadap organisasi. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana peran manajemen untuk merealisasikan karakteristik tersebut. Dalam TQM manajer harus percaya pada bawahannya guna melakukan pekerjaan menuju kualitas.
5.      Pelibatan karyawan. TQM memberi peluang kepada para kar-yawan untuk ikut terlibat dalam proses pemecahan masalah.
6.      Sociotechnical Systems (Sistem Sosioteknikal). Organisasi di-pandang sebagai sistem yang terbuka, organisasi mengambil sumber daya dari lingkungannya, mengolahnya dan menyam-paikan hasilnya kepada lingkungannya. TQM memperhatikan dimensi sistem organisasi secara eksplisit. TQM memusatkan perhatian pada interface antara unsur-unsur yang saling mempengaruhi.
7.      Pengembangan Organisasi (Organization Development). Hal ini merupakan turunan dari group dynamics yang bertujuan melatih seluruh organisasi (tidak hanya satu kelompok) agar lebih produktif. Organisasi akan lebih efektif belajar dari peng-alaman dan melakukan perubahan apabila anggotanya dilibat-kan dalam proses pengumpulan data dan proses pengambilan keputusan. TQM menambahkan dua unsur, yaitu titik berat pada kualitas dan menuntut hasil yang dapat diukur.
8.      Budaya Perusahaan. Adalah pola nilai-nilai, keyakinan dan harapan yang tertanam dan berkembang pada diri anggota organisasi mengenai pekerjaannya. TQM mengembangkan konsep tersebut di mana budaya perusahaan terdiri dari dua komponen dasar, yaitu keyakinan dan nilai-nilai (values)
9.      Teori Kepemimpinan Baru. Menurut teori baru, pemimpin dituntut untuk memetakan pandangannya ke depan (vision), manajer dituntut untuk merealisasikan visi tersebut. Memim-pin berarti menciptakan dinamika organisasi yang kondusif agar para anggota mau dan komitmen terhadap tujuan or­ganisasi. Melakukan manajemen berarti menata, mengarahkan serta mengendalikan para anggota secara sistematis agar tujuan organisasi tercapai. TQM mendasarkan pada teori kepemimpinan tersebut di mana pimpinan harus mempunyai strategic vision yang baik.
10.  Perencanaan Strategis. Perencanaan strategis adalah suatu proses di mana pimpinan puncak organisasi menggambarkan masa depan organisasi tersebut dan mengembangkan prosedur yang diperlukan beserta pengoperasiannya. TQM ber-pendapat bahwa data yang penting untuk perencanaan harus berasal dari yang dekat dengan konsumen dan data ini sebagai pertimbangan perencanaan yang berorientasi pada pelanggan.

1.3  TUJUAN
1.3.1        Untuk mengetahui Total Quality Management
1.3.2        Untuk mengetahui pengimplementasian Total Quality Management
1.3.3        Untuk mengetahui manfaat dan tujuan Total Quality Management
1.3.4        Untuk mengetahui Manajemen Strategik pada Perencanaan dan Pelaksanaan
1.3.5        Untuk mengetahui standar sistem mutu pada Total Quality Management
1.3.6        Untuk mengetahui kepemimpinan dan manajemen dalam Total Quality Management.













BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Total Quality Management
Menurut Chase, Aquilano dan Jacobs (2001) menyatakan bahwa TQM adalah kegiatan mengelola organisasi secara keseluruhan sehingga semua dimensi produk dan jasa yang dipandang penting oleh pelanggan menjadi unggul atau istimewa (managing the entire organization so that it excels on all dimensions of products and services that are important to the customer). Selain itu dalam aturan mengenai Japan Quality Medal disebutkan bahwa TQM adalah satu set aktivitas yang tersusun secara sistematis dan dilaksanakan oleh keseluruhan organisasi untuk mencapai tujuan secara efektif dan secara efisien agar organisasi mampu menyediakan produk dan jasa pada tingkatan mutu yang dapat memuaskan para pelanggan pada waktu dan harga yang sesuai.
TQM berkaitan dengan integrasi semua upaya dalam organisasi terhadap kualitas perbaikan, Pengembangan kualitas dan pemeliharaan kualitas untuk memenuhi kepuasan pelanggan. TQM meningkatkan kualitas kerja dan kepuasan kerja melalui partisipasi dan keterlibatan dan akibatnya citra organisasi Ini mengembangkan budaya partisipatif di mana setiap karyawan dapat langsung berpartisipasi di daerah yang berkaitan dengan pekerjaannya dan keputusan tentang pekerjaannya. Hal ini diselenggarakan melalui lingkaran kualitas secara sukarela dan tim peningkatan mutu (Yusuf et al., 2007).
Sesuai studi penelitian yang dilakukan oleh (Talib et al., 2012), mereka menemukan bahwa ada beberapa definisi TQM diberikan oleh penulis yang berbeda kualitas. Esensi dari definisi ini berbagi banyak unsur yang sama. Pertama, mereka berbagi pelanggan adalah pusat perhatian dan kekuatan pendorong di TQM filsafat. Kedua, mereka menganggap komitmen manajemen sebagai komponen penting untuk keberhasilan TQM. Terakhir, mereka mempertimbangkan perubahan budaya dan organisasi sebagai kondisi yang diperlukan untuk keberhasilan TQM. Untuk meringkas, TQM adalah suatu filosofi manajemen yang membantu organisasi untuk meningkatkan kinerja mereka secara keseluruhan dan efektivitas dalam mencapai status mutu di tingkat global (Zhang et al.,2000; Yusof dan Aspinwall, 2000, 2001; Arumugam et al., 2008).
Selanjutnya, (Dahlgaard et al., 1998) berpendapat bahwa tidak ada resep standar untuk program TQM yang baik. Selama dua dekade terakhir, kesadaran TQM telah jauh meningkat dan sekarang telah menjadi lapangan mapan penelitian untuk akademisi (Yusof dan Aspinwall, 1999;. Arumugam et al, 2008). Pekerjaan produktif telah dilakukan dan masih dilakukan pada aspek yang berbeda dari TQM dalam sektor jasa.
Secara umum studi ini menunjukkan bahwa TQM telah diterima secara luas sebagai pendekatan manajemen untuk meningkatkan kinerja dan menduduki posisi sentral untuk layanan organisasi terlepas dari sifat bisnis mereka berada. Selanjutnya, TQM adalah kompilasi dari berbagai proses, sistem, orang berkomitmen, komunikasi yang transparan dan budaya bagi pelanggan kepuasan. TQM adalah variabel tak terhingga dan mudah beradaptasi.
Berbagai praktik TQM telah terbukti seperti komitmen top manajemen; fokus pelanggan; pelatihan dan pendidikan; perbaikan dan inovasi yang berkelanjutan; manajemen pemasok; keterlibatan karyawan; dorongan karyawan; benchmarking; dan informasi kualitas dan kinerja sedangkan output ditunjukkan dalam hal peningkatan produktivitas dan kualitas, tepat waktu pengiriman, kepuasan pelanggan, kualitas layanan, dan meningkatkan hubungan dan loyalitas pelanggan. Tindakan manajemen dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi sangat diperlukan sesuai dengan model ini.
Filosofi TQM membuat masing-masing karyawan bertanggung jawab untuk mengontrol kualitas dan menghentikan produksinya ketika terjadi masalah dalam pabrik (Monden, 1989), karyawan juga didorong untuk mengidentifikasikan berbagai cara untuk memperbaiki kualitas produk dan proses (Cole, 1983; Siegel 1997). Maka penting bagi para manajer untuk memberikan wewenang kepada karyawannya untuk ikut aktif  dalam mengambil inisiatif dengan harapan keterlibatan karyawan dapat meningkatkan proses produksi (Ichiniowski 1997; Sarkar, 1997). Dengan kata lain pemanufakturan TQM lebih menekankan pada keterlibatan karyawan (Zipkin,1991). Karyawan belajar melalui pekerjaan yang membangkitkan kemauan yang tinggi untuk memahami masalah dan untuk mencari  menyelesaiannya (Aoki, 1986), sehingga pelaporan informasi produktivitas dan kualitas kepada personalia lini akan memberikan umpan balik yang diperlukan untuk perbaikan dan pembelajaran produksi (Banker’s, 1993).
TQM bukan merupakan program atau sistem , tapi merupakan budaya yang harus dibangun, dipertahankan dan ditingkatkan oleh seluruh anggota organisasi /perusahaaan tersebut berorientasi pada mutu dan menjadikan mutu sebagai The way of Life (Dorothea W.A,1999 ). Elemen-elemen kritis dalam penerapan TQM adalah : kepemimpinan dan komitmen, keterlibatan penuh seluruh karyawan, perencanaan yang baik, strategi pelaksanaan, pengukuran & evaluasi, pengendalian & perbaikan dan mencapai, mempertahankan standar kesempurnaan. Filosofi TQM memenang dapat di terapkan untuk semua bidang, asal ada dukungan dari semua pihak dalam organisasi, dengan konsep kuncinya adalah kepemimpinan (Leadership), perubahan budaya (Culture change) dan pemberdayaaan karyawan (Employee empowerment), dan keterlibatan karyawan dalam bentuk kerja tim yang dikenal Gugus Kendali Mutu (QCC).
2.2  Implementasi Total Quality Management
Implementasi TQM dapat meningkatkan produktivitas organisasi (kinerja kuantitatif), meningkatkan kualitas (menurunkan kesalahan dan tingkat kerusakan), meningkatkan efektivitas pada semua kegiatan; meningkatkan efisiensi (menurunkan sumberdaya melalui peningkatan produktivitas), dan mengerjakan segala sesuatu yang benar dengan cara yang tepat. Lebih lanjut, implementasi TQM dalam suatu organisasi dapat memberikan beberapa manfaat utama yang akhirnya dapat meningkatkan daya saing organisasi. Melalui perbaikan kualitas berkesinambungan maka perusahaan dapat meningkatkan labanya melalui dua rute (Pall dalam Tunggal, 1993: 6), yaitu rute pasar dan rute biaya.
Untuk menjamin keberhasilan dalam mengimplementasikan TQM, sebenarnya terdapat langkah-langkah yang harus dilakukan secara berurutan dan secara disiplin. Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut:
A.    Tanamkan satu falsafah kualitas. Dalam hal ini manajemen dan karyawan harus sepenuhnya mengerti dan yakin mengapa organisasi akan mencapai total quality, yaitu untuk menjamin kelangsungan hidup organisasi dalam iklim kompetitif.
B.     Manajemen harus membimbing dan menunjukkan kepemimpinan yang bermutu. Manajemen puncak, terutama CEO, harus memberikan contoh dalam pola sikap, pola piker dan pola tindak yang  mencerminkan falsafah mutu yang di tanamkan.
C.     Kalau perlu, adakan perubahan atau modifikasi terhadap system yang ada, agar kondusif dengan tujuan total quality.
D.    Dididik, latih dan berdayakan (empower) seluruh karyawan.
Dengan melaksanakan keempat langkah tersebut secara berurutan maka akan dapat diciptakan iklim yang kondusif bagi perwujudan total quality yaitu: tata laku anggota organisasi akan berubah, dikalangan para karyawan akan terbentuk sikap total quality, didalam organisasi dapat diciptakan budaya total quality.
2.3  Manfaat TQM dan Tujuan TQM
Salah satu cara terbaik dalam persaingan global adalah de­ngan menghasilkan suatu produk barang/jasa dengan kualitas terbaik. Kualitas terbaik akan diperoleh dengan melakukan upaya perbaikan secara terus-menerus terhadap kemampuan manusia, proses, lingkungan. Penerapan TQM adalah hal yang sangat tepat agar dapat memperbaiki kemampuan unsur-unsur tersebut secara berkesinambungan. Penerapan TQM dapat memberikan beberapa manfaat utama, sebagai berikut.
Dengan perbaikan kualitas berkesinambungan, perusahaan akan dapat memperbaiki posisi persaingan. Dengan posisi yang lebih baik akan meningkatkan pangsa pasar dan men-jamin harga yang lebih tinggi. Hal ini akan memberikan penghasilan lebih tinggi dan secara otomatis laba yang diperoleh semakin meningkat. Upaya perbaikan kualitas akan menghasilkan peningkatan ke-luaran (output) yang bebas dari kerusakan atau mengurangi produk yang cacat. Berkurangnya produk yang cacat berarti berkurang pula biaya operasi yang dikeluarkan perusahaan sehingga akan diperoleh laba yang semakin besar.
Tujuan Total Quality Management adalah sebagai berikut:
A.    TQM bertujuan untuk memperbaiki kemampuan bersaing organisasi secara terus menerus.
B.     TQM tidak hanya bertujuan untuk memuaskan kebutuhan sekarang dari pelanggan, juga mengantisipasi kebutuhan pelanggan dimasa yang akan datang melalui perbaikan mutu yang dilakukan secara berkelanjutan.
C.     TQM menetapkan peningkatan kualitas sebagai prioritas dominan dan salah satu yang sangat penting untuk efektivitas jangka panjang dan kelangsungan hidup. Ini klaim bahwa meningkatkan kualitas dapat menurunkan daripada meningkatkan biaya dan memfasilitasi pencapaian tuntutan dan tujuan lainnya.
D.    Tujuan lainnya adalah memperbaiki kualitas output-nya, menekan biaya produksi dan meningkatkan produktivitasnya

2.4  Manajemen Strategik: Perencanaan dan Pelaksanaan
Manajemen strategik adalah manajemen yang mendasarkan semua tindakan, kegiatan, dan keputusan pada apa yang paling mungkin dalam suatu kerangka etik guna memastikan kinerja yang berhasil di pasar. Dari perspektif manajemen strategic, Sumber Daya terbuang jika sumber daya tersebut  tidak menyambung kepada keberhasilan dipasar dan semakin langsung menghasilkan sumbangan justru malah semakin baik.
Perencanaan Strategik
Perencanaa strategic adalah proses yang ditempuh oleh sebuah organisasi untuk menjawab pertanyaan seperti: siapakah kita? Kemana tujuan kita? Bagaimana kita bisa sampai kesana? Apa yang ingin kita capai? Apa kekuatan dan kelemahan kita? Apa yang merupakan peluang dan ancaman dalam lingkungan bisnis kita? Perencanaan strategic mencakup pengembangan rencana tertulis yang mengikuti komponen-komponen berikut: sebuah visi organisasi, misi organisasi, prinsip paduan, sasaran strategic yang luas dan taktik-taktik, proyrk, atau kegiatan spesifik untuk mencapai tujuan-tujuan yang luas.
Langkah-langkah dalam proses perencanaan strategic hendaknya diselesaikan secara teratur, karena setiap langkah suksesif bertumpu diatas langkah sebelumnya. Analisis SWOT memberikan satu kerangka pengetahuan yang dibutuhkan untuk melakukan perencanaan strategic.  Misi keluar dari visi dan mendukung visi. Prinsip-prinsip paduan yang menggambarkan system nilai organisasi memandu perilaku organisasi, ketika organisasi tersebut mengejar misinya. Tujuan yang luas muncul dari misi dan menerjemahkannya ke dalam istilah-istilah yang dapat diukur. Strategi spesifik di ikat langsung pada sasaran luas.
Pelaksanaan Strategik
Pelaksanaan strategic mencakup implementasi strategi yang sudah ditetapkan dalam perencanaan strategic, pemantauan kemajuan kearah pencapaiannya, dan penyesuaian bila perlu. Pelaksanaan strategi merupakan implementasi yang mencapai efisiensi dan efektivitas maksimum.
Pemantauan mencakup pemeriksaan secara konstan atas kinerja actual terhadap tolak ukur kinerja. Pemantauan strategic menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti: Apakah kita mencapai tujuan kita? Ini adalah pertanyaan mengenai efektivitas. Apakah kita melakukan sebaik seperti yang kita butuhkan? Ini adalah pertanyaan mengenai efisiensi. Penyesuaian bila perlu termasuk membuat koreksi bila strategi atau taktik spesifik yang diambil ini tidak membawa hasil yang di inginkan. Penyesuaian-penyesuaian tersebut dapat mencakup suatu puntiran ringan atas strategi, menemukan cara untuk mengatasi hambatan yang tidak diperkirakan yang ditemui, atau bahkan mengambil satu perangkat strategi tertentu yang sama sekali baru.
2.5  International Organization for Standardization (ISO)
Salah satu kunci untuk mampu bersaing dalam pasar global adalah kemampuan untuk mencapai atau melebihi standar yang dapat dipakai. Para professional mutu menggunakan istilah standar untuk menyatakan berbagai macam makna, seperti metric (ukuran), spesifikasi, ukuran, statement, kategori, segmen, perilaku, atau pengelompokan. Hingga kini usaha paling berhasil untuk mengembangkan standar mutuyang seragam secara internasional adalah ISO 9000.
Menurut Kimberley K. Hockman, ISO 9000 merupakan satu perangkat standar system mutu universal memberikan satu kerangka kerja seragam untuk jaminan mutu yang dapat digunakan di seluruh dunia. Akibatnya ISO 9000 telah menyusun menjadi satu system tunggal prinsip-prinsip hakiki yang berlaku umum pada berbagai manajemen mutu dan standar terjamin.
ISO 9000 dapat membantu usaha perusahaan dalam memuaskan pelanggannya, memenuhi persyaratan regulasi dan mencapai peningkatan mutu yang berkesinambungan. Tetapi sebagai langkah pertama, tingkat dasar suatu system bukanlah suatu jaminan yang lengkap dari mutu.
Fakta-fakta mengenai ISO 9000: mula-mula diterbitkan dalam 1987 oleh organisasi internasional untuk standarisasi (ISO). Iso ini telah mengalami beberapa kali revisi dan revisi utama terjadi dalam tahun 2000. Sehubungan dengan hal tersebut, kita kenal ISO-9000 seri 1987, ISO-9000 seri 1994, dan ISO-9000 seri 2000. ISO 9000:2000 sekarang meliputi ISO-9000:2000 (tentang definisi), ISO 9001:2000 (persyaratan) dan ISO 9004:2000 (perbaikan mutu berkelanjutan). ISO 9000:2000 merupakan rangkaian standar mutu yang didasarkan pada delapan asas manajemen mutu yang dapat diterapkan manajemen senior untuk melakukan peningkatan mutu organisasinya, yaitu:
a.       Focus pada pelanggan.
b.      Kepemimpinan
c.       Pelibatan karyawan
d.      Pendekatan proses
e.       Manajemen berbasis pendekatan system
f.       Peningkatan mutu berkesinambungan.
g.      Pendekatan berdasar fakta atas pengambilan keputusan.
h.      Hubungan dengan penyalur yang saling menguntungkan.
Standar ISO berperan untuk melakukan pengembangan kegiatan pabrikasi dan menyediakan produk dan jasa yang lebih efisien, lebih aman, dan lebih bersih. Standar ISO membuat perdagangan antarnegara-negara lebih mudah dan lebih adil. Standar ISO juga member layanan untuk melindungi konsumen dan para pemakai produk dan jasa pada umumnya, juga untuk membuat hidup mereka menjadi lebih mudah.
Manfaat dari Sertifikasi ISO 9000
Sertifikat ISO 9000 memperluas akses lebih jauh ke pasar asing dan kompatibilitas dengan pemasok-pemasok asing. Akses dan kemampuan pasar itu cukup bermanfaat dari dirinya sendiri untuk mendapatkan sertifikasi ISO 9000, namun ada manfaat tambahan. Proses yang dilalui perusahaan untuk mencapai sertifikasi cenderung meningkatkan mutu dan keseragaman kerja, sambil meningkatkan produktivitas secara serempak.
Menurut Hockman, duPon Corporation mendapatkan manfaat yang berhubungan dengan produktivitas dan mutu berikut dari sertifikasi ISO 9000.
A.    Penyerahan tepat waktu pada suatu pabrik meningkat 70% menjadi 90%
B.     Daur waktu pada suatu pabrik merosot dari 15 hari menjadi 1,5 hari.
C.     Jumlah kesalahan di satu gudang berkurang sampai 95%
D.    Jumlah prosedur tes yang perlu di satu tempat merosot dari 3.000 menjadi 1.100

2.6  Kepemimpinan dan Manajemen dalam Total Quality Management
Dalam Total Quality Management (TQM), kepemimpinan dan manajemen lebih ditekankan merupakan dua konsep yang hanya dapat dibedakan, tetapi tidak dapat  dipisahkan. Pemimpin dituntut untuk memiliki pandangan strategic yang jauh kedepan dan kekuatan tekad yang besar. Sedangkan manajer dituntut untuk memiliki pengetahuan instrinsik atau pengetahuan dalam bidang tugasnya yang baik serta pertimbangan professional yang dalam.
Dari batasan tersebut, maka pemimpin dituntut untuk memetakan pandangannya, sedangkan manajer dituntut untuk merealisasikan pandangan tersebut. Jadi dalam mengimplementasikan TQM dalam era informasi ini, kepemimpinan dan manajemen lebih banyak dituntut untuk bersifat saling melengkapi (komplementer) dan harus dapat mewujudkan asset berharga, yaitu wawasan mental yang luas dan imajinasi yang kreatif.










BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
TQM bukan merupakan program atau sistem, tapi merupakan budaya yang harus dibangun, dipertahankan dan ditingkatkan oleh seluruh anggota organisasi /perusahaaan tersebut berorientasi pada mutu dan menjadikan mutu sebagai The way of Life (Dorothea W.A,1999). Melaksanakan Total Quality Management dalam organisasi berarti mengadakan perubahan mendasar dalam organisasi, yang meliputi berubahan cultural dan perubahan substansif dalam manajemen.
Dengan perbaikan kualitas berkesinambungan, perusahaan akan dapat memperbaiki posisi persaingan. Dengan posisi yang lebih baik akan meningkatkan pangsa pasar dan menjamin harga yang lebih tinggi. Hal ini akan memberikan penghasilan lebih tinggi dan secara otomatis laba yang diperoleh semakin meningkat. Upaya perbaikan kualitas akan menghasilkan peningkatan keluaran (output) yang bebas dari kerusakan atau mengurangi produk yang cacat. Berkurangnya produk yang cacat berarti berkurang pula biaya operasi yang dikeluarkan perusahaan sehingga akan diperoleh laba yang semakin besar.
Management strategik merupakan manajemen yang mendasarkan semua tindakan, aktivitas, dan keputusan pada apa yang paling mungkin untuk menjamin kinerja yang berhasil di pasar. Dua komponen utama dari manajemen strategik adalah perencanaan startegik dan pelaksanaan strategik. Rencana strategic paling tidak ada gunanya  kalau tidak dilaksanakan secara efektif. Untuk mempromosikan pelaksanaan strategik yang berhasil, orientasi hendaknya melakukan kegiatan-kegiatan seperti:mengkomunikasikan, membangun kemampuan, menetapkan rangsangan yang mendukung strategi, hilangkan hambatan administrative, dll.
Salah satu kunci untuk mampu bersaing dalam pasar global adalah kemampuan untuk mencapai atau melebihi standar yang dapat dipakai. Para professional mutu menggunakan istilah standar untuk menyatakan berbagai macam makna, seperti metric (ukuran), spesifikasi, ukuran, statement, kategori, segmen, perilaku, atau pengelompokan. Hingga kini usaha paling berhasil untuk mengembangkan standar mutuyang seragam secara internasional adalah ISO 9000.
3.2. Kelebihan
Manajemen mutu penting diterapkan di era persaingan yang ketat seperti sekarang ini karena mutu adalah salah satu faktor daya saing di pasar global. Konsumen tidak selalu mencari produk atau jasa yang berharga murah, tetapi cenderung mencari yang bermutu baik dengan harga yang bersaing. Upaya perbaikan kualitas akan menghasilkan peningkatan keluaran (output) yang bebas dari kerusakan atau mengurangi produk yang cacat. Berkurangnya produk yang cacat berarti berkurang pula biaya operasi yang dikeluarkan perusahaan sehingga akan diperoleh laba yang semakin besar.
3.3  Kelemahan
Banyak perusahaan yang membuat kualitas lebih kabur atau tidak jelas dengan menetapkan tujuan yang tampak positif tanpa memilki cara untuk memonitor kemajuan pencapaian tujuan tersebut. kemudian TQM merupakan aktivitas yang bersifat hanya di dalam departemen-departemen di banyak perusahaan. Masing-masing departemen mempunyai kebijakannya secara sendiri-sendiri, sehingga tidak mencakup keseluruhan organisasi. Selanjutnya masalah kualitas merupakan suatu departemen yang ada dengan tanggung jawab khusus untuk pengendalian kualitas, di mana disiplin tersebut cenderung lebih berfokus kepada proses stabilisasi daripada memperbaiki proses. Ide keseluruhan dari filosofi kualitas juga membuat konsep secara keseluruhan tampak misterius bagi kebanyakan orang. Pendekatan-pendekatan baru seperti ISO 9000 atau reengineering tidak terintegrasi ke dalam usaha kualitas yang ada.
3.4  Saran
Berdasarkan landasan teorinya, jadi dalam meninjau sejarah perkembangan TQM haruslah dilihat dari dua dimensi, yaitu landasan dan akarnya, agar kita dapat menghayati tingkat perkembangan TQM pada suatu waktu.
Para pengambil keputusan kiranya dapat mempertimbangkan untuk menerapkannya dalam proses perencanaan yang dikerjakannya karena TQM menawarkan suatu pendekatan yang dapat memaksimumkan daya saing organisasi melalui perbaikan secara terus menerus atas produk jasa dan proses termasuk diantaranya adalah proses perencanaan strategis sistem informasi / teknologi Informsi.
Terakhir, supaya bisa bersaing dalam pasar global, organisasi harus mampu memenuhi standar internasional. Paling penting adalah ISO 9000.
















DAFTAR PUSTAKA

Goetsch, David L. and Davis, Santley B. 1997. Manajemen Mutu Total. Penerbit PT.        Prenhallindo dan Pearson Education Asia Pte.Ltd. Jakarta.
Haming, Murdifin. dan Nurnajamuddin, Mahfud. 2007. Manajemen Produksi Modern                  Operasi Manufaktur dan Jasa. Penerbit Bumi Aksara, Jakarta.
Hardjosoedarmo, Soewarso. 1996. Total Quality Managgement. Penerbit Andi      Yogyakarta, Yogyakarta.
Menon, Ajay, B.J. Jaworski dan A.K. Kholi. 1997. Product Quality: Impact Of     Interdepartemental Interaction.  Journal  of  Academy  of  Marketing  Science,
            Vol. 25, No. 3, p. 187-200
Spencer, Barbara A. 1994. Models Of Organization and Total Quality Management: A      Comparison and Critical Evaluation. Journal Of Academy Management         Review Mississippi State University, Vol. 19. No. 3. 446-471.
Tenner, A.R., and Irving J. Toro. 1992. Total Quality Management, Addison-Wesley.        Reading, Massachusetts.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar