Jumat, 23 Mei 2014

UJI TOLLEN UNTUK ALDEHID DAN KETON

Laporan Kimia’

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Aldehid dan keton merupakan dua dari sekian banyak contoh kelompok senyawa organik yang mengandung gugus karbonil. Aldehid itu sendiri merupakan salah satu senyawa karbon yang mengandung gugus karbonil (-CO-), dimana satu tangan mengikat gugus alkil dan tangan yang lain mengikat atom hidrogen. Sedangkan keton hampir sama dengan aldehid, hanya saja pada keton kedua tangan atom karbon mengikat gugus alkil.
Struktur umum aldehid yaitu R-CHO.Struktur umum keton yaitu R-CO-R’.
Aldehid dan keton banyak terdapat dalam sistem makhluk hidup.Seperti gula ribosa dan hormon progesteron merupakan contoh dari aldehid dan keton. Aldehid dan keton mempunyai bau yang khas, yang pada umumnya aldehid berbau merangsang sedangkan keton berbau harum.
Aldehid dan keton menyumbangkan manfaat yang cukup besar dalam kehidupan. Salah stu contohnya yaitu metanal yang merupakan contoh dari senyawa aldehid. Metanal ini lebih dikenal dengan nama formaldehida. Larutan formaldehida 40% digunakan sebagai antiseptik atau yang dikenal dengan sebutan formalin. Sedangkan pada keton yang pailing banyak dikenal yaitu aseton yang digunakan sebagai pelarut dan pembersih kaca. Oleh karena banyak manfaatnya maka kita harus mampu membedakan mana senyawa keton dan senyawa aldehid agar tidak terjadi kekeliruan dalam pemanfaatannya.
B. Tujuan
Membedakan senyawa aldehid dan keton dengan menggunakan “Uji Tollen“
II. TINJAUAN PUSTAKA
Aldehid dan keton bereaksi dengan berbagai senyawa, tetapi pada umumnya aldehid lebih reaktif dibanding keton. Kimiawan memanfaatkan kemudahan oksidasi aldehid dengan mengembangkan beberapa uji untuk mendeteksi gugus fungsi ini (Willbraham, 1992).
Uji Tollen merupakan salah satu uji yang digunakan untuk membedakan mana yang termasuk senyawa aldehid dan mana yang termasuk senyawa keton. Selain dengan menggunakan Uji Tollen untuk membedakan senyawa aldehid dan keton dapat juga menggunakan Uji Fehling dan Uji Benedict.
Aldehid lebih mudah dioksidasi dibanding keton. Oksidasi aldehid menghasilkan asam dengan jumlah atom karbon yang sama ( Hart, 1990). Hampir setiap reagensia yang mengoksidasi alkohol juga dapat mengoksidasi suatu aldehid.
Pereaksi tollens, pengoksidasi ringan yang digunakan dalam uji ini, adalah larutan basa dari perak nitrat. Larutannya jernih dan tidak berwarna. Untuk mencegah pengendapan ion perak sebagi oksida pada suhu tinggi, maka ditambahkan beberapa tetes larutan amonia. Amonia membentuk kompleks larut air dengan ion perak (Willbraham,1992).
Pereaksi Tollens sering disebut sebagai perak amoniakal, merupakan campuran dari AgNO3 dan amonia berlebihan. Gugus aktif pada pereaksi tollens adalh Ag2O yang bila tereduksi akan menghasilakan endapan perak. Endapan perak ini akan menempel pada tabung reaksi yang akn menjadi cermin perak. Oleh karena itu Pereaksi Tollens sering juga disebut pereaksi cermin perak (Sudarmo, 2006).
Aldehid dioksidasi menjadi anion karboksilat, ion Ag+ dalam reagensia Tollens direduksi menjadi logam Ag. Uji positf ditandai dengan terbentuknya cermin perak pada dinding dalam tabung reaksi.Reaksi dengan pereaksi Tollens mampu mengubah ikatan C-H pada aldehid menjadi ikatan C-O. Alkohol sekunder dapat dioksidasi menjadi keton selanjutnya keton tidak dapat dioksidasi lagi dengan menggunakan pereaksi Tollens. Hal ini disebabkan karena keton tidak mempunyai atom hidrogen yang menempel pada atom karbon karbonil. Keton hanya dapat dioksidasi dengan keadaan reaksi yang lebih keras dibandingkan dengan aldehid. Ikatan antara karbon karbonil dan salah satu karbonnya putus, memberikan hasil-hasil oksidasidengan jumlah atom karbon yang lebih sedikit daripada bahan keton asalnya. Kekecualian adalah dalam oksidasi keton siklik, karena jumlah atom karbonnya tetap sama. Misalnya, sikloheksanon dioksidasi secar besar-besaran menjadi asam dipat, bahan kimia pentinh dalam pembuatan Nylon.
III. ALAT DAN BAHAN
A. Alat
· Pipet tetes
· Tabung reaksi
· Alat pemanas air
B. Bahan
· Larutan 10% NaOH
· Larutan 10% Ag NO3
· NH4OH
· Aquades
· Etanol 95%
· Asetaldehid
· Glukosa
· Aseton
· Fruktosa
· Air mendidih
IV. METODE KERJA
Ø Menambahkan 20 tetes larutan 10% NaOH ke dalam 20 tetes larutan 10% AgNO3.
Ø Kemudian menambahkan NH4OH tetes demi tetes sampai endapannya hilang. Maka inilah yang disebut dengan pereaksi tollens.
Ø Melarutkan satu tetes sampel cair atau satu spatula sampel dalam sedikit air atau etanol 95%. Sampel yang digunakan abtara lain :
· Asetaldehid
· Aseton
· Glukosa
· Fruktosa
Ø Menambahkan sampel tetes demi tetes ke dalam pereaksi Tollens sambil mengocok-ngocoknya kemudian mengamati endapan Ag yang terbentuk.
Ø Memanaskan tabung reaksi dalam air yang mendidih.
Ø Mengamati hasil atau perubahan yang terjadi.
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
Larutan Warna Endapan
A 10% AgNO3 + 10% NaOH Keruh Ada
B Larutan A + NH4OH Bening Tidak ada
C Asetaldehid (sampel) + air Bening Tidak ada
D Larutan B + Larutan C Keruh Ada
E Larutan D dipanaskan Agak keruh (abu-abu), ada cermin perak pada dinding tabung reaksi Ada gelap
F Aseton (sampel) + air Bening Tidak ada
G Larutan B + Larutan F Bening Tidak ada
H Larutan G dipanaskan Keruh coklat kehitaman Tidak terbentuk cermin perak melainkan warna kehitaman
I Glukosa (sampel) + air Bening Tidak ada
J Larutan B + Larutan I Agak keruh Ada
K Larutan J dipanaskan Keruh abu-abu Ada endapan dan cermin perak
L Fructosa (sampel) + air Bening Tidak ada
M Larutan B + Larutan L Keruh coklat kehitaman Ada
N Larutan M dipanaskan Keruh coklat Ada endapan warna perak
B. Pembahasan
Hal yang membedakan Aldehid dengan keton yaitu kemampuan kedua senyawa ini apabila dioksidasi. Aldehid hádala larutan yang mudah sekali dioksidasi dengan menggunaknan Uji Tollens, sedangkan Keton tidak. Sifat inilah yang dimanfaatkan untuk dapat membedakan Aldehid dengan Keton. Apabila statu sampel direaksikan dengan pereaksi tollens kemudian dipanaskan dan muncul endapan cermin perak pada dinding tabung reaksi maka dapat dikatakan bahwa sampel itu merupakan salah satu dari senyawa aldehid.
Pada praktikum kali ini menggunakan empat jenis sampel yang diuji apakah dia termasuk ke dalam senyawa aldehid atau senyawa keton. Sampel-sampel tersebut antara lain asetaldehid, aseton, glucosa, dan fructosa.
Pada percobaan terhadap asetaldehid mula-mula ditambah dengan air, warnanya tetap bening dan tidak ada endapan sama sekali pada dasar tabung reaksinya. Kemudian ditambahkan dengan pereaksi tollens, maka terjadi perubahan. Warna larutan menjadi keruh dan munculnya endapan. Lalu larutan ini dipanaskan, dan terjadi perubahan yaitu warna larutan agak keruh abu-abu dan timbal cermin perak pada dinding tabung. Warna larutan berubah menjadi gelap. Dengan munculnya cermin perak pada dinding tabung reaksi pada percobaan kali ini maka dapat dinyatakan bahwa asetaldehid merupakan salah satu contoh dari senyawa aldehid.
Selanjutnya menggunakan sampel kedua yaitu aseton. Aseton ditambahkan dengan air, warna bening dan tidak terbentuk endapan. Kemudian ditambahkan pereaksi tollens, tidak terjadi perubahan. Warna tetap bening dan tidak terbentuk endapan. Kemudian larutan ini dipanaskan, warna larutan menjadi keruh coklat kehitaman dan tidak terbentuk cermin perak melainkan terbentuk endapan warna kehitaman. Dari pengamatan ini dapat dinyatakan bahwa aseton bukan merupakan salah satu senyawa aldehid, tetapi aseton merupakan senyawa keton,
Sampel berikutnya yaitu glucosa. Telah diketahui bahwa glukosa merupakan salah satu karbohidrat monosakarida yang merupakan sumber energi bagi makhluk hidup. Glukosa pada praktikum kali ini ditambahkan dengan air, warna bening dan tidak terbentuk endapan. Kemudian glukosa ditambahkan dengan pereaksi tollens, terjadi perubahan yaitu pada warna menjadi agak keruh dan ada endapannya. Kemudian larutan ini dipanaskan dan warna berubah menjadi keruh abu-abu, dan terbentuknya endapan cermin perak pada dinidng tabung reaksi. Terdapatnya cermin perak ini membuktikan bahwa glukosa merupakan salah satu dari senyawa aldehid.
Sampel tang terakhir yaitu fruktosa. Sama dengan glukosa, fruktosa juga merupakan salah satu jenis karbohidrat monosakarida. Apabila fruktosa ditambahkan dengan air warna yang terjadi tetap bening dan tidak ada endapan. Kemudian ditambahkan dengan pereaksi tollens maka warna berubah menjadi keruh coklat kehitaman dan terdapat endapan. Kemudian larutan ini dipanaskan maka warna menjadi keruh coklat dan terbentuklah endapan cermin perak pada dinding tabung reaksi. Jadi sama seperti glukosa, fruktosa juga merupakan salah satu senyawa aldehid.
Dari keempat sampel yang digunakan, yang bukan senyawa aldehid melainkan keton adalah Aseton. Ketiga larutan yaitu asetaldehid, glukosa, dan fruktosa termasuk ke dalam senyawa aldehid. Aseton tidak dapat membentuk cerminperak karena aseton tidak mempunyai atom hidrogen yang terikat pada gugus karbon. Kedua tangan gugus karbonnya sudah mengikat dua gugus alkil sehingga aseton tidak mengalami oksidasi ketika ditambah pereaksi tollens dan dipanaskan. Pada asetaldehid, glukosa dan fruktosa oksidasi terjadi denagn mudah karena ketiganya lebih reaktif.
VI. PENUTUP
A. Kesimpulan
Dengan menggunakan uji tollens ternyata mudah untuk membedakan mana senyawa aldehid dan keton. Suatu sampel dapat dikatakan sebagai aldehid apabila direaksikan dengan pereaksi tollens kemudian dipanaskan akan terbentuk cermin perak pada dinding tabung reaksinya. Sedangkan sampel dapat dikatakan bahwa ia merupakn senyawa keton apabila terjadi reaksi negatif pada saat ditambah pereaksi tollens dan dipanaskan. Sampel ini tidak akan menunjukkan adanya cerminperak pada dinidng tabung.
B. Saran
Dalam percobaan-percobaan berikutnya sebaiknya menggunakan sampel lain yang lebih berbeda. Praktikan sebaiknya dapat mendeskripsikan hasil perubahan ynag terjadi dari percobaan secara lebih jales lagi.

Daftar Pustaka
Hart, Harold.1990.Kimia Organik.Jakarta : Erlangga.
Staley, Dennis.1992.Penuntun Belajar Untuk Kimia Organik dan Hayati.Bandung : ITB.
Sudarmo, Unggul.2006.Kimia 3.Jakarta : Erlangga.
Willbraham, and Michael S. Matta.1992.Kimia Organik dan Hayati.Bandung : ITB


Tidak ada komentar:

Posting Komentar